7 Tips Isolasi Mandiri, Kapan dan Bagaimana Cara Melakukan?

  • Bagikan

Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit (RS) atau disebut BOR secara nasional sangat tinggi akibat pandemi COVID-19. Hal ini terjadi terutama pada RS yang menjadi rujukan COVID-19. 7 Tips Isolasi Mandiri, Kapan dan Bagaimana Cara Melakukan?.

Oleh karenanya, opsi isolasi mandiri menjadi pilihan yang diutamakan saat ini. Namun tidak semua orang bisa melalukan isolasi mandiri ketika terpapar virus COVID-19.

Dalam artikel ini secara jelas akan disampaikan mengenai ketentuan kapan harus melakukan isolasi dan protokol yang harus dilakukan.

Kapan harus isolasi mandiri?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh masyarakat luas, mungkin kamu salah satunya. Terlambat untuk melakukan isolasi bisa berdampak buruk berupa penyebaran virus pada orang terdekat. Berikut beberapa hal yang harus kamu pahami mengenai kapan harus melakukan isolasi mandiri. Beberapa diantaranya merupakan saran resmi dari Kemkes.

1. Kontak langsung dengan orang yang positif COVID-19

Tetap berada di rumah atau #stayathome memang menjadi anjuran pada situasi seperti sekarang ini. Akan tetapi tidak memungkiri bahwa mungkin kamu masih perlu beraktivitas di luar rumah seperti berbelanja, bekerja, atau beberapa kegiatan lainnya.

Meskipun patuh terhadap protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan rajin cuci tangan, hal ini tetap tidak bisa menghindarkanmu 100% dari terpaparnya virus COVID-19. Oleh karenanya segera lakukan isolasi mandiri ketika ternyata orang yang baru saja kamu temui, setidaknya selama seminggu terakhir terkonfirmasi positif COVID-19.

2. Segera isolasi mandiri ketika dari luar kota

Beberapa aktivitas mungkin memaksa kamu untuk bepergian hingga keluar kota. Langsung lakukan isolasi mandiri setelah kamu sampai di kota tujuanmu, begitu pula saat kamu kembali ke kotamu. Setelah tiga hingga lima hari isolasi , kamu baru bisa melakukan tes PCR atau SWAB untuk mengetahui apakah kamu terpapar atau tidak saat melakukan perjalanan tersebut.

Jika kamu tidak melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu dan langsung melakukan tes PCR atau SWAB, ada kemungkinan kamu mendapatkan hasil false negative. Maksudnya adalah hasil negatif dari tes tersebut tidak akurat, karena virus COVID-19 baru bisa terdeteksi dalam tubuh setelah beberapa hari terpapar.

3. Langsung isolasi mandiri saat mulai merasakan gejala

Orang yang terpapar virus COVID-19 memiliki gejala yang berbeda-beda. Namun terdapat gejala umum seperti demam, batuk, dan flu. Ketika kamu mulai merasakan ini segera lakukan isolasi mandiri. Meskipun gejala seperti ini mungkin bisa saja terjadi karena perubahan musim yang tidak stabil, namun utamakan asumsi bahwa kamu telah terpapar COVID-19.

Lebih baik berasumsi positif terpapar COVID-19 dan ternyata setelah hasil tes keluar menunjukkan bahwa kamu negatif COVID-19, daripada sebaliknya. Tindakan seperti ini merupakan tindakan pencegahan penyebaran yang sangat berarti bagi orang sekitarmu.

4. Positif namun gejala ringan

Setelah mendapatkan hasil tes PCR atau SWAB dan menunjukkan bahwa kamu positif terpapar COVID-19, jangan panik. Jika gejala yang kamu rasakan merupakan gejala ringan, biasanya dokter akan menyarankan kamu untuk melakukan isolasi mandiri.

Bagaimana protokol melakukan isolasi mandiri?

Dari penjelasan sebelumnya, dapat kamu lihat bahwa isolasi mandiri dapat kamu lakukan sebelum maupun sesudah hasil tes PCR atau SWAB keluar. Oleh karenanya, pengetahuan mengenai tindakan ini adalah penting. Berikut protokol melakukan isolasi mandiri, beberapa diantaranya merupakan protokol resmi yang dikeluarkan oleh Kemkes.

1. Tidak pergi ke mana pun

Ketika melakukan isolasi mandiri, ada dua kemungkinan alasannya. Pertama, kamu positif terpapar COVID-19 dengan gejala ringan. Kedua, kamu positif terpapar COVID-19 namun tidak bergejala atau orang tanpa gejala (OTG). Dari kedua alasan tersebut, satu hal yang perlu kamu pahami adalah kamu bisa menyebarkan virus COVID-19.

Oleh karenanya, jangan pergi ke mana pun, terlebih ke tempat umum seperti tempat kerja, pasar, sekolah, dan lainnya. Minta bantuan orang lain seperti tetangga atau keluarga untuk memasok kebutuhan sehari-harimu. Jika kamu bekerja, segera minta izin untuk melakukan pekerjaan dari rumah. Perbanyak istirahat saat melakukan isolasi mandiri.

2. Lapor ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas)

Saat terkonfirmasi terpapar virus COVID-19, tentu kamu harus memberi tahu semua keluarga dan kerabat yang melakukan kontak denganmu selama seminggu terakhir. Setelah itu, penting untuk melaporkannya pada pihak aparatur desa/ketua RT/ketua RW setempat dan puskesmas.

Puskesmas akan membantu untuk mengawasi perkembangan kesehatanmu. Segera laporkan juga jika kesehatanmu semakin memburuk agar kamu bisa mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di saat seperti ini, tenaga medis merupakan pihak yang paling bisa menolongmu dengan profesional.

3. Isolasi mandiri dengan satu ruangan maksimal satu orang

Kamu bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, hotel, apartemen, atau kamar kost. Di mana pun kamu melakukannya, pastikan tidak bersama dengan orang lain di ruangan yang sama. Misalnya ada kerabat atau keluarga yang juga positif terpapar dan melakukan isolasi di dalam rumah yang sama, kalian tetap harus berada di ruangan yang terpisah.

Sebisa mungkin kamu isolasi mandiri di ruangan dengan ventilasi udara yang memadai dan sinar matahari bisa langsung masuk ke ruangan mu. Ventilasi udara yang baik akan memungkinkan pergantian udara yang sehat untuk kamu hirup. Sinar matahari juga baik untuk kesehatan dan akan dijelaskan lebih lanjut pada poin selanjutnya.

4. Berjemur setiap pagi

Menurut sebuah penelitian, vitamin D tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan tulang tetapi juga terbukti memberikan efek proteksi dari infeksi dan keparahan penyakit COVID-19. Vitamin D secara alami bisa kamu dapatkan melalui sinar matahari di pagi hari.

Oleh karenanya, berjemur setiap pagi merupakan rutinitas yang disarankan, baik bagi penderita maupun bukan penderita COVID-19. Jika kamu merupakan penderita COVID-19, kamu harus menggunakan masker saat keluar untuk berjemur. Setiap keluar dari ruangan isolasi untuk melakukan aktivitas tertentu, kamu wajib menggunakan masker.

5. Cek suhu badan dan saturasi oksigen

Saat melakukan isolasi mandiri, salah satu rutinitas yang harus kamu lakukan adalah mengecek suhu badan dan saturasi oksigen. Kamu bisa membeli alatnya di toko alat kesehatan maupun membeli secara daring di marketplace.

Perhatikan hasil pengecekan suhu badan, apakah kamu demam atau tidak. Cek juga tingkat saturasi oksigen. Terdapat beberapa kasus dimana penderita COVID-19 tidak merasa sesak atau pun merasa baik-baik saja padahal tingkat saturasi oksigennya rendah. Hal ini dapat berbahaya bagi keselamatanmu.

6. Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih

Saat isolasi mandiri, lakukan perilaku hidup sehat dan bersih. Sering bersihkan kamar atau ruangan tempat kamu mengisolasi diri. Selain itu, konsumsi makanan yang bergizi. Masukkan sayur atau buah sebagai salah satu komponen makanan harianmu.

Saat terpapar COVID-19 mungkin kamu mulai stres karena tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Akibatnya mungkin saja kamu melakukan “emotional eating” atau makan karena perubahan emosi. Saat emotional eating, orang cenderung untuk makan apa saja dan terus menerus. Disiplinkan diri untuk menghindari hal seperti ini terjadi.

7. Hindari pemakaian barang yang sama

Saat kamu melakukan isolasi mandiri di rumah, beberapa hal yang harus kamu  perhatikan adalah penggunaan barang yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Misalnya seperti alat makan, bedakan alat makanmu sementara dengan orang lain.

Selain itu, usahakan kamu dan anggota keluargamu dalam satu rumah tidak memakai kamar mandi yang sama. Selalu usahakan jaga jarak dengan mereka, maksimalkan penggunaan gadget untuk komunikasi. Tindakan seperti ini sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi penyebaran virus ke orang di sekitarmu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *